Picture: Etsy.com

ElMicha.id – Sudah 3 hari berlalu semenjak aku menembus frekuensi alam lain dalam keadaan sadar. Sungguh, itu adalah pengalaman yang luar biasa sekaligus menyebalkan. Karena sampai sekarang aku masih belum mengerti apa arti dari semua rangkaian kejadian ini.

Pusaran angin yang menempel di kening ku perlahan sudah mulai berkurang. Hanya sesekali saja terasa, lalu kemudian hilang. Senang rasanya bisa kembali merasakan tidur dalam arti yang sebenarnya.

Berangsur-angsur kondisi fisik dan psikis mulai pulih. Setelah 10 hari tidak bisa keluar rumah karena kondisi psikis ku yang sedang naik turun, tak karuan dan takut kalau kalau ada yang menganggap ku gila. Rasanya hari ini aku siap untuk keluar rumah melakukan aktifitas normal dan bersosialisasi lagi dengan sesama ku manusia.

Aku memutuskan untuk pergi makan siang di salah satu mall dengan sahabat ku, Mey. Dan seperti biasa kami memilih tempat duduk deretan paling pojok di bagian belakang.

“Hai, El. Akhirnya setelah beberapa kali batal, bisa juga ya kita ngumpul berdua lagi. Hi hi hi kangen”, sapa Mey dengan hangat sembari menyambutku dengan pelukan.

“Iya, beberapa hari ini kondisi ku lagi naik turun. Jadi aku lebih baik di rumah saja” kata ku.
“Waaah… Repot juga ya ternyata jadi dukun”.
“Huuush… Sembarangan”, segera aku mengacungkan jari di depan mulut sebagai tanda untuk menyuruhnya diam.

Mey adalah sahabat dekat ku. Kami selalu berbagi cerita dan pengalaman. Kemudian aku menceritakan semua kejadian yang telah ku alami selama 10 hari terakhir. Tampak sekali raut wajah Mey yang bingung dan meragukan cerita ku. Maklum Mey adalah orang yang sangat logis. Dia tidak pernah bersinggungan dengan hal-hal yang berbau mistis dan supranatural. Meskipun begitu, dia menghormati jalan yang sedang ku lalui ini.

“Hmmm…. menarik” katanya.
“Pada saat kau mendengar suara-suara itu, adakah satu atau dua suara yang kau kenal?”

Mey menatap ku dengan sungguh-sungguh, berharap segera mendapatkan reaksi dari ku. Sementara aku masih saja diam dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.

“Maksud ku, mungkin saja itu adalah suara dari salah satu leluhur mu atau kerabat yang sudah meninggal, dan mereka mau menyampaikan suatu pesan”.

Aku menunduk sembari mengingat-ingat lagi suara-suara itu. Ku gelengkan kepala pelan, “Tidak”, kataku.

“Semuanya masih asing di telinga, tak ada satu suara pun yang terdengar mirip atau bahkan mengingatkan ku pada salah seorang kerabat yang telah meninggal”.

Sembari makan siang, kami pun saling bertukar cerita. Mey begitu antusias menceritakan bisnis kuliner yang sedang digelutinya.

Tiba-tiba entah mengapa fokus ku berubah. Aku tidak lagi fokus mendengarkan cerita Mey. Mata ku tertuju pada seorang wanita yang baru saja duduk di meja ke 3,di belakang Mey. Ia mengenakan dress merah, dengan rambut hitamnya yang di gerai. Dia terlihat sangat anggun. Wanita itu tersenyum padaku.

Segera ku alihkan pandangan karena merasa tidak enak. Tidak enak rasanya ketahuan diam-diam memperhatikan wanita tersebut. Namun pada saat aku mengarahkan lagi pandanganku ke sana, meja tempat perempuan tersebut telah kosong.

Tidak ada siapa-siapa di sana. Wanita bergaun merah itu sudah tidak lagi ada di sana. Ku sapukan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Wanita yang ku cari, benar-benar sudah tidak ada. Dalam sekejap wanita itu hilang. Sungguh aneh, karena aku tidak menyangka wanita itu adalah sosok dari dunia sebrang.

Aku melihatnya begitu sempurna seperti manusia. Walaupun harus aku akui bahwa sebenarnya dia terlalu sempurna.

Mana ada orang pakai gaun pesta malam warna merah maroon seperti itu berkeliaran di mall. Terlebih ini masih siang bolong. Yaaah atau mungkin dia artis yang sedang syuting sinetron.

Aah sudah laaah, aku tak mau ambil pusing. Aku sudah lelah dengan semua penampakan yang terlalu sering dalam beberapa hari ini. Akhirnya aku memilih untuk tidak perduli.

Ngobrol dengan sahabat memang selalu seru. Dan tak terasa sudah hampir 5 jam kami di sini. Sebelum jalanan semakin macet, kami pun memutuskan untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang aku mampir dulu untuk isi bahan bakar. Tanpa sengaja aku menoleh ke arah toilet dan di sana aku melihatnya masuk ke dalam toilet wanita.



Yaa tidak salah lagi, itu gadis bergaun merah yang tadi siang ku lihat di mall.

“Sedang apa dia di sini ?” gumamku dalam hati.
“Apakah mungkin dia mengikutiku ?”
Dengan berbagai rasa penasaran dan bercampur kesal, setelah selesai mengisi bahan bakar, aku memarkir mobil dan segera mengejarnya ke dalam toilet.

Sepi, tidak ada siapa-siapa. Sosok wanita itupun tidak ada. Yang ku temukan hanyalah kilatan-kilatan ektoplasma dan orbs yang berterbangan ke sana kemari.

“Dasar SETAN, berani mengikuti ku. Ku bakar kau sampai musnah !”

Meskipun aku bisa melihat dan berkomunikasi, bukan berarti aku berteman dengan mahluk astral. Aku lebih sering menyatakan perang dan memusnahkan bangsa mereka.

Memusnahkan mereka sering aku lakukan, karena ku pikir akan lebih baik dari pada berteman dan memberinya tempat tinggal. Apabila ku biarkan mereka mengikuti ku, mereka hanya akan lebih banyak membuatku repot dan sebal dari pada membantu ku.

Masih dengan perasaan kesal. Aku kembali ke mobil dan bergegas menuju ke rumah. Saat aku membuka pintu, aku mendengar ada seseorang yang memanggil nama ku.

Dan saat ku menengok ke belakang tiba-tiba saja ada semacam angin dingin yang menabrak ku dengan kencang.

Aku terpental dan alarm mobil berbunyi. Beberapa orang yang ada di sekitar lokasi tampak terkejut mendengar alarm mobil yang tiba-tiba berbunyi dan melihatku tersungkur di aspal.

Mereka berdatangan dan membantu ku berdiri. Mereka bertanya apa yang telah terjadi pada ku.

Ada yang mengira aku adalah korban perampokan, ada juga yang mengira aku korban tabrak lari. Sementara yang lain sibuk mempersiapkan gadgetnya seperti layaknya seorang wartawan profesional yang selalu siap meliput berita.

Mereka tampak kesal sewaktu ku katakan bahwa aku hanya terpeleset.

Tampang-tampang wartawan dadakan yang sudah siap merekam dengan ponsel pribadinya berubah seketika menjadi nyinyir saat mereka menyadari bahwa tidak ada kejadian seru yang bisa dijadikan berita.

Aku tersenyum mengucapkan terima kasih dan minta maaf kepada mereka karena telah menjadi heboh dan merepotkan banyak orang.

Mereka akhirnya membubarkan diri setalah memastikan aku tidak apa-apa. Sesungguhnya akibat dari benturan tadi kepala ku masih pusing. Aliran energi dalam tubuh ku kacau. Seluruh tubuh ku merinding dan ada yang aneh dengan mata ku.

Tiba-tiba semuanya tampak berbayang. Aku merasa seperti mau pingsan. Ternyata yang terjadi adalah di luar dugaan.

Aku melihat banyak sinar yang keluar dari tiap-tiap tubuh manusia. Semuanya sama mengeluarkan sinar. Sinar-sinar yang sangat terang dan jelas. Dan tidak hanya manusia saja, tumbuh-tumbuhan pun mengeluarkan sinar.

Semua benda mati pun yang telah tersentuh manusia, terlihat mengeluarkan sinar. Sepertinya aku melihat fantamorgana.

Tapi tidak, ini adalah nyata. Yang ku lihat ini adalah sinar aura.

Hanya saja sekarang semuanya tampak lebih jelas. Aku bisa melihat beda pancaran sinar siapa yang sedang marah, siapa yang sedang sakit, siapa yang punya niat buruk, siapa yang tulus dan siapa yang suka berdoa. Semuanya terlihat jelas.

Dalam sekejap mata ku menjadi lebih peka melihat energi halus dan semua itu terlihat lebih tajam.

Kadang aku bingung, kenapa orang lain yang terobsesi dengan dunia lain. Berusaha dengan keras berlatih mengoptimalkan kemampuan diri. Namun malah susah mencapai tahap seperti ini. Sedangkan aku yang tak ingin malah dengan mudahnya kemampuan ini datang sendiri.

Apakah kemampuan seperti ini merupakan berkah? Atau malah musibah? Sudahlah nanti saja ku pikirkan.

Bukan aku tidak bersyukur, hanya saja aku tau ini belum puncaknya. Dan aku sudah merasa lelah.

Segera setelah sampai rumah, aku menyiapkan air panas di ember. Ku tuangkan garam kasar sembari komat kamit mengucap mantra. Ember yang satu lagi aku isi dengan air dingin. Aku taburkan 7 kuntum Mawar dan 1 genggam bunga melati untuk membilas tubuh. Tak lupa ku nyalakan lilin doa berwarna ungu dan juga menyalakan dupa melati di sudut kamar mandi.

Kali ini aku akan mandi besar. Pembersihan menyeluruh untuk melepas semua energi negatif yang menempel dan sekaligus melancarkan jalur-jalur energi ku.

Segar rasanya setelah mandi besar. Ku keringkan rambut, lalu merebahkan badan di atas tempat tidur.

Nyaman rasanya.

Sebelum tidur aku meditasi dengan posisi berbaring. Posisi kepala sampai kaki lurus sejajar. Tangan di atas perut dengan posisi mengucap doa syukur atas semua yang telah terjadi hari ini.

Ku ucapkan doa perlindungan. Aku berharap kali ini tidur ku akan benar-benar pulas dan saat bangun esok aku diberi kekuatan untuk menghadapi segala fenomena supranatural dan spiritual yang makin hari makin berat.



Comments

comments

Leave a Reply