Aku merasa seperti mayat hidup merupakan kisah tentang pengalaman ku di masa lampau saat sedang menjalani kebangkitan spiritual. Melalui tulisan ini aku mencoba untuk berbagi beberapa kisah yang pernah kualami.

Semoga cerita ini menjadi inspirasi buat kamu yang sedang dalam masa pencarian, bahwa kebangkitan spiritual mempunyai sisi lain yang tak menyenangkan, dan buat kamu yang sudah atau telah mengalami hal serupa, tenang saja kamu tidak sendirian dan kamu tidak gila.

 

Mayat Hidup

Secangkir kopi yang ku buat beberapa saat yang lalu sudah mulai dingin. Aroma wangi kopi sudah mulai pudar dan berganti dengan aroma dupa melati yang ku nyalakan di sudut teras rumah.

Aku masih duduk terdiam, bersandar di dinding teras. Sesekali aku menengadah ke atas. Menikmati indahnya langit malam. Tak ada doa yang ku panjatkan, tak ada mantra yang ku lantunkan. Aku hanya diam dan membisu.

Sesekali ku pegang kening ku yang terasa ngilu. Ada suatu sentuhan yang menggelitik dan berputar kencang seperti pusaran angin. Pusaran energi ini terus berputar kencang selama tujuh hari tujuh malam. Sebagai tanda cakra ajna atau mata ke tiga ku sedang sangat aktif.



Aku belum tau apa penyebabnya, namun yang pasti ini sangat tidak nyaman.

Bahkan ketika tidur pun aku tidak lagi bisa merasa nyaman. Sudah tujuh hari tidur tidak lagi menjadi obat ku untuk melepas rasa lelah dan kantuk. Aku terlihat tidur seperti layaknya orang normal. Berbaring di atas tempat tidur sambil memeluk guling kesayangan, menggunakan selimut dan memejamkan mata.

Mata ku memang terpejam, namun mata batin terbuka lebar. Mata batin ku menjelajah dan mengembara ke sana kemari. Kadang mata batin membawa aku kembali ke rumah orang tua dan melihat mereka sedang istirahat. Terkadang aku mengunjungi orang-orang yang tak ku kenal.

Aku melihat berbagai kejadian. Melihat saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Beberapa kali mata batinku memperlihatkan sebuah lokasi dimana ada banyak jiwa-jiwa yang masih terperangkap. Roh sucinya telah kembali kepada Yang Maha kuasa, tubuhnya mulai membusuk di liang lahat, namun tubuh astralnya masih bergentayangan ke sana kemari mencari keadilan semu atas urusan dunia yang belum tuntas.

Mata batin mengajak ku berkelana menembus dinding-dinding yang selama ini menjadi sekat antara dunia ku dengan dunia mereka.

Setiap kali aku terbangun dari tidur aku merasa lelah sekali. Rasanya seperti habis lari maraton sepanjang malam. Semakin hari kantung mata ku semakin membengkak, muka ku pucat, layu dan tak bergairah karena sudah berhari-hari aku tidak merasa tidur.

“Aku merasa seperti mayat hidup.”

Sesekali aku mendengar ada suara di dalam kepala. Suara itu meminta ku melakukan sesuatu. Aku tau suara itu bukan suara batin atau pikiran ku. Aku tak mampu untuk membuat suara-suara itu berhenti dan diam.

Di sisi yang lain aku juga tak berminat untuk mendengarkan nasehatnya. Yang bisa ku lakukan hanya mengacuhkannya, tak menuruti maunya karena aku tau itu suara Setan.

Meditasi, grounding dan self healing sudah aku lakukan, namun semua itu tidak membuahkan hasil apa-apa.

“Aku sudah bosan.”
“Aku lelah.”
Entah berapa lama lagi aku harus seperti ini.

Malam ini aku memutuskan untuk tetap terjaga sepanjang malam, berharap menemukan jawaban atas apa yang sedang kualami. Karena firasat ku mengatakan ini baru permulaan. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya.

Malam semakin larut dan udara semakin dingin. Jam dinding menunjukan pukul 03.45 wib. Sudah hampir pagi, namun tak ada yang aku dapat dari heningnya malam ini.

Tidak ada penampakan.
Tidak ada petanda.
Tidak ada bisikan.

Hanya ada ngilu yang masih terus menempel di kening dan tak mau pergi. Layaknya sang juara bertahan yang masih enggan beranjak dari podium. Rasa ini membuat ku risih. Semakin lama membuat ku semakin frustrasi.

Tinggal beberapa jam lagi sebelum sinar mentari mulai menampakkan senyumnya. Tekad ku untuk terjaga semalaman masih bulat.

Bersambung keĀ Suara-Suara Tak Bertuan



Comments

comments

Leave a Reply