ElMicha.ID - Akhirnya sampai di perkampungan Baduy Dalam. Ternyata perkampungan di Baduy Dalam masih murni,

ElMicha.ID – Sekitar 45 menit kemudian kami akhirnya sampai di perkampungan Baduy Dalam. Kami tiba disana sekitar pukul 17.45 wib, hari sudah mulai gelap.

Dan ternyata perkampungan di Baduy Dalam masih murni, walalupun banyak tamu hilir mudik mengunjungi mereka, tapi mereka tetap konsisten melestarikan adat dan budayanya, sama sekali tidak terpengaruh oleh pendatang.



Rumah – rumah terbuat dari anyaman bambu, tidak ada listrik, makan menggunakan tangan, mandi disungai dan sebagainya.
Sangat natural sehingga saat berada disana rasanya seperti kembali ke jaman nenek moyang kita dulu, disini kami tidak diperkenankan sama sekali memotret dan menggunakan sabun untuk mandi.

ElMicha.ID - Akhirnya sampai di perkampungan Baduy Dalam. Ternyata perkampungan di Baduy Dalam masih murni,

Dengan hening diri dan meresapi kita bisa merasakan seperti apa kehidupan leluhur kita dahulu yang jauh dari kata modern. Suasana perkampungan sangat tenang dan damai, sore itu saya melihat anak-anak kecil sekitar usia 6-7 th sedang bermain menggunakan sebatang bambu panjangnya +/- 2 meter, mereka ayunkan bambu ke udara dan saling berlomba untuk memukul burung yg sedang terbang “wuuush, wuuush,wuuush” suara bambu yg diayunkan terdengar layaknya anak-anak shaolin yang sedang berlatih kungfu.

Sejak usia dini mereka sudah diajarkan untuk menghalau burung agar tidak merusak tanaman di ladang, mereka juga sudah menenteng golok di pinggangnya. Selepas maghrib saat langit sudah mulai gelap mereka sudah berada dirumah dan berkumpul dengan keluarga.

ElMicha.ID - Akhirnya sampai di perkampungan Baduy Dalam. Ternyata perkampungan di Baduy Dalam masih murni,

Mereka hidup harmonis dengan alam, pikiran tenang, damai dan seolah tidak ada beban berat dalam hidupnya. Segala penat, lelah, pikiran keruh, dan hawa negatif yang menempel pada tubuh hilang seketika saat berada di perkampungan ini, tempat yang sempurna untuk grounding dan menyatu dengan alam.

Sekitar jam 2 dini hari saya ingin buang air kecil, segera lah saya menuju sungai yang khusus hanya untuk perempuan. Dengan berbekal senter kecil saya berjalan sendirian, tidak ada orang sama sekali dan tidak ada cahaya lain. Setelah sampai di sungai saya tengok kanan dan kiri takutnya ada orang lain yang ada disana, setelah aman lalu senter saya matikan.

Terlihat ada sinar biru yang terang sekali bergerak diantara pepohonan, awalnya saya berpikir bahwa ada orang lain disana, segera lah saya menyalakan kembali lampu senter, namun ternyata tidak ada orang sama sekali disungai itu, dan cahaya itu hilang diantara pohon bambu. Setelah selesai buang hajat saya menyebrangi sungai untuk mendekati lokasi munculnya sinar biru tadi. Antara senang dan merinding bercampur jadi satu, sebuah pusaka yang belum mematrial menampakkan sinarnya. Yaa betul, sinar biru yang terlihat rupanya bukan berasal dari lampu senter, melainkan pancaran dari sebuah pusaka.

Saya pun tersenyum dan bersyukur, namun tidak berani mengambilnya. Saya datang tidak untuk mencari pusaka. Saya khawatir jika pusaka tersebut saya ambil akan merusak keseimbangan vibrasi metafisika di tempat itu.



Setelah kembali ke rumah tempat menginap, kami sempatkan untuk meditasi sesaat, untuk grounding dan recharge energi. Setelah selesai kami pun bersiap untuk tidur. Suasana menjadi sedikit aneh punggung panas, sekujur tubuh merinding dan ada banyak pasang mata yg sedang mengamati dari tiap sudut ruangan, sosok-sosok transparant pun satu persatu mulai menampakkan diri dan mendekat.Saya coba mengacuhkannya karna saya butuh istirahat agar punya tenaga untuk pulang.

ElMicha.ID - Akhirnya sampai di perkampungan Baduy Dalam. Ternyata perkampungan di Baduy Dalam masih murni,

Akhirnya matahari pun terbit dan kami bersiap untuk pulang dengan membawa segudang pengalaman spiritual yang berbeda satu sama lain. Kami pulang mengambil jalur yang berbeda dengan jalur saat berangkat, kali ini jalur turun yang coba dilalui adalah dengan menyusuri sungai.

Ada banyak pengalaman dan cerita menarik saat perjalanan pulang, perjumpaan dengan “Jaro” yang merupakan kepala desa dan “pu’un” yang merupakan kepala adat suku baduy dalam juga membawa kisah menarik untuk masing-masing kami.

Kami memang pergi bersama, menyusuri jalan yang sama dan menginap ditempat yang sama, namun pengalaman kami berbeda satu sama lain. Tiap-tiap orang menemukan pengalaman spiritualnya sendiri.

ElMicha.ID - Akhirnya sampai di perkampungan Baduy Dalam. Ternyata perkampungan di Baduy Dalam masih murni,

Terima kasih kepada semua pihak dan kawan-kawan yang telah terlibat dalam perjalanan ini.

Sampai jumpa pada kisah perjalanan berikutnya.

#ElMicha
#BalaElTripToBaduyDalam

Jangan lupa baca dariĀ BalaEl Trip To Baduy Dalam [Part 1]



Comments

comments

Leave a Reply