ElMicha.ID - Sementara suku Baduy Dalam mereka hanya mengenal dua warna yaitu hitam & putih, mereka tidak menggunakan alas kaki, hidup dari bercocok tanam.

ElMicha.ID – Hari sabtu pagi tgl 28-mei-2016 menjadi hari yang lain dari biasanya.

Pagi hari ini saya dan 2 orang kawan memutuskan melalukan perjalanan spiritual mengunjungi Baduy Dalam.

Perjalanan ditempuh menggunakan KRL naik dari stasiun Depok Baru menuju stasiun Maja, sambung menyambung dengan kereta ekonomi lalu disambung lagi menggunakan angkot sampai ke lokasi terminal terakhir.

Tidak setiap menit ada kereta menuju Rangkas Bitung jadi sepanjang perjalanan kita berlari larian di stasiun demi mengejar kereta, sampai di rangkas bitung sambung dengan angkot, beruntung pada saat itu ada angkot yang sudah siap langsung berangkat.

ElMicha.ID - Sementara suku Baduy Dalam mereka hanya mengenal dua warna yaitu hitam & putih, mereka tidak menggunakan alas kaki, hidup dari bercocok tanam.



Pengalaman seru menggunakan angkot hijau yang penuh dengan manusia dan juga barang dagangan, bahkan 1 set sofa berwarna merah terlihat sudah nangkring di atas mobil.

Perjalanan angkot dari terminal rangkas bitung menuju Ciboleger ditempuh dengan +/- 2 jam perjalanan yang fantastis.

Perjalanan dengan angkot ini seperti kita sedang piknik keluarga dan bisa berhenti istirahat dimana saja tergantung permintaan (terutama permintaan pak sopir sendiri) perhentian pertama kami berhenti di sebuah warung untuk beli minuman dingin dan ada juga yang belanja bibit cengkeh, setelah semua selesai maka perjalanan dilanjutkan.

Pemberhentian selanjutnya ditempat pedagang bibit ikan dengan alasan membeli oleh-oleh buat anak di rumah, maka kami pun berhenti, beberapa penumpang dan juga pak supir tampak asyik memilih ikan yang sehat dan imut, sementara penumpang yang lain memilih untuk istirahat, meregangkan badan sambil menghirup udara segar.

Maklum didalam angkot ini kita posisi sudah seperti ikan sarden dalam kaleng, berdesak desakan tidak bisa bergerak sama sekali, terhimpit jerigen minyak goreng, prabot rumah tangga, sayuran dan tentu saja si empunya barang. Masih untung karna tidak ada kambing atau ayam yang ikut naik disitu. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya.

ElMicha.ID - Sementara suku Baduy Dalam mereka hanya mengenal dua warna yaitu hitam & putih, mereka tidak menggunakan alas kaki, hidup dari bercocok tanam.

Setelah hampir dibuat mabuk darat akhirnya sampailah kita di Ciboleger, istirahat sebentar di warung sambil menunggu kawan yang memang tinggal di Baduy Luar datang, kami pun sempatkan nge charge Hp supaya bisa foto-foto lg di jalan.

Kami mulai perjalanan jam 7 pagi dari stasiun depok baru sampai akhirnya tiba di Ciboleger jam 12.30 wib.

Warga Baduy Luar sudah lebih maju, mengenal dunia bisnis, menggunakan baju dengan berbagai model dan berwarna warni, menggenakan alas kaki, makan menggunakan sendok dan garpu, mengenal Hp, dan sudah pergi kemana mana menggunakan alat transportasi.

Sementara suku Baduy Dalam mereka hanya mengenal dua warna yaitu hitam & putih, mereka tidak menggunakan alas kaki, hidup dari bercocok tanam, makan tidak menggunakan sendok, tidak mengenal peralatan elektronik, dan tidak diijinkan pergi menggunakan alat transportasi, sehingga kemanapun mereka pergi, maka mereka akan jalan kaki dengan tanpa alas (nyekermen).

Hal yang paling mencolok untuk membedakan suku baduy dalam dan luar adalah dari ikat kepalanya, suku baduy dalam menggunakan ikat kepala putih, sedangkan suku baduy luar menggunakan ikat kepala hitam.

Terinspirasi dari keseharian suku baduy dalam yang tidak pernah menggunakan alas kaki, maka dalam perjalanan spiritual kali ini kami memutuskan untuk tidak menggunakan alas kaki sama sekali sampai kembali lagi ke terminal.

Perjalanan menuju badui dalam pun dimulai, kami berangkat tepat jam 2 siang dengan telanjang kaki ……

Bersambung ke BalaEl Trip To Baduy Dalam [Part 2]



Comments

comments

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.